ini kisah tentang sepotong roti yang pernah kita bagi di pagi hari. kala itu, kita berada dikecamuk senioritas. aku mengingatnya dengan kuat, dengan lawas asa takut dan tak berselera. dimulai sejak pagi itu dengan perkenalan sepotong roti, kita merajut asa, adanya kebersamaan dibawah rundung ketakutan kini semua telah berbeda tolong angin, bawakan selir berita bahagia dimana dengan mendengarnya aku mampu menepis lara duhai langit, engkau yang tertinggi dari tingginya keangkuhan bumi yang berusaha melangitkan diri gamblang senyum yang mengambang seolah rentang jarak dan waktu tak menjadi penghalang hitam pekat malam yang menjamu dengan tiada bintang yang ditaburkan aku mengerti dan paham bahwa hadirku tidak sedang ditunggu malah dianggap mengganggu aku memang tak sepantasnya hadir, tanpa ada ruang yang disedia derap langkah sahaja mungkin engkau enggan mendengarnya sekarang ini hanya cerita luka yang meninggalkan bahagia yang berujung nestapa tentang renyah tawa yang...