‘’cheeeeeerrrrrrr’’ kilat menyambar
Sontak Ia pun berlarian mengejar naungan, asli itu
bagian paling lucu dari kebiasaannya, padahal masih seneng-senengnya mencumbui
hujan eh malah kepergok petir. agaknya ia memang takut petir, dan bagiku itu
jaga wajar sih, bahaya juga kan.
‘’assalamu’alaikum Aqly’’
‘’wa’alaikumussalam warahmatullah’’
‘’begini naqly, Arash mau minta tolong buat
nge-print-kan bendera untuk besok, soalnya co hpd tadi menyarankan Arash untuk
meminta antum yang nge-print-kan, soalnya 10 menit lagi kelas saya
akan dimulai’’
‘’oh iya tentu’’
‘’syukron’’
‘’afwan’’
Percakapan itu masih ku ingat dengan hangat, saat
dimana detak jantung ini seolah berhenti sesaat, stuck in the moment gitu lah
kalau kata justin bieber, sapaan pertamanya kepadaku setahun lalu, ketika aku
menjadi staff hpd di sebuah kepanitiaan prokja HMJ.
Pernah sekali aku berkesempatan mengobrol agak panjang
dengannya, saat hujan benar-benar lebat, dibawah naungan atap kantin hijau
kampus tempat puluhan mahasiswa memilih untuk berteduh dan disitu ku temukan
dia salah satunya. Awalnya aku sama sekali tidak mengenalinya, hanya saja dari
punggungnya seperti tak asing bagiku dengan jilbab panjang yang menutupi
sebagian tubuhnya, ditemani salah seorang teman karibnya yang berjilbab tidak
terlalu panjang tapi cukup menutup dada yang kukenal betul dia adalah kak
Azizah yang akrab dipanggil kak Zii oleh para staff hpd. Aku mulai
memberanikan diri untuk menyapa mereka lebih dulu.
‘assalamu’alaikum kak zii, Arash’ salamku
‘wa’alaikumussalam warahmatullah’ jawab mereka
serentak
‘udah lama nunggu di sini kak’ tanyaku basa-basi
‘lumayan ly, Aqly sendiri sampai basah kuyup begitu
kelamaan di parkiran yah’’ tanya kak zii
‘iya kak, tadi parkirannya penuh jadi agak susah ngeluarin
motornya, maunya langsung tancap gas tapi ternyata ujannya tambah deras dan
awet gini, jadi telat nyelamatin diri dari basah kan jadinya’ jawabku sambil
tertawa ringan
‘hehe, beda bener ya kita sama Arash, mungkin satu
fakultas ini hanya dia yang senang sekali basah-basahan saat hujan’
‘kok bawa-bawa Arash kak’ celetuk Arash menimpali
‘laa, bener kok tadi aja kesini karena kamu kasian kan
sama kakak, kalau ndak ada kakak mungkin sekarang kamu lagi
mesra-mesraan sama ujan dijalan’ jawab kak zii
‘ iya Arash, aqly juga sering ngeliat arash kayak main
air hujan gitu apalagi pas gerimis kayanya seneng bener dibawahnya’ tanyaku
penasaran menimpali pernyataan kak zii
‘gimana ya, kalau udah suka ya gitu’ jawabnya singkat
‘apa yang membuatmu menyukai hujan’ tanyaku
‘hujan itu Rahmat dari Allah ta’ala gimana mungkin aku
membiarkan raga ini tidak menyentuhnya, dan juga tenang dikala hujan juga
moment istimewa bagiku’ jawabnya anggun seperti biasanya tapi tidak
meninggalkan raut periangnya
‘apa yang begitu istimewa darinya, selain daripada
rahmat dan basah’ tanyaku semakin penasaran
‘sebagai anak laskar dari pedalaman yang merantau jauh
dari kehidupan dengan status keluarga, hujan seperti rekaman yang selalu bisa
kuputar saat ku ingin’ senyum simpul menyertai kalimatnya tanpa menatap kepada
siapa ia bicara, ia hanya menatap hujan
‘kamu terlalu dramatis Arash, nanti Aqly baper pula’
celetuk kak zii dari sampingnya
‘astagfirullah, tapi memang begitu adanya kak zii’
jawab Arash sambil menggenggam tangan kak zii, yang memperlihatkan sekali Arash
sedang malu-malu
Karena semakin penasaran aku pun berulang kali
menyuguhnya pertanyaan tentang hobby nya itu apalagi setelah mendengar sedikit
alasan darinya.
‘rekaman seperti apa maksudmu Arash’ tanyaku lagi
‘dikampungku saat-saat paling hangat bagi anggota
keluarga ya saat hujan, saat semua anggota keluarga akan meninggalkan atau
menyudahi pekerjaan masing-masing mereka, ntah saat di kebun, di ladang, maupun
di danau, saat itu mereka akan kembali kerumah dan berkumpul bersama keluarga,
dari situlah akan terdengar cerita-cerita terdahulu dari para orang tua, dan dikeluargaku ibu dan aku adalah dalng terbaik, sedang ayah
biasanya yang menjadi sasaran untuk di jailin, ayah selalu tau cara mengalah
dan membuat aku dan ibu tertawa bahagia, walau begitu dia ayah paling bijak
yang kupunya, saat hujan dialah yang mengumpulkan kami sekadar melepas lelah.
sedangkan saat jauh seperti ini mana bisa aku merasakan kehangatan saat seperti
itu, syukurnya saat hujan lah aku bisa mengenangnya dan membuatku seolah berada
di masa itu’ jelasnya panjang
lebar
‘owh seperti itu’ jawabku puas karena telah mengetahui
jawabannya
‘lalu, kapan saat terbaik hujan yang kau rasakan
selain tiap hujan yang membawamu merasakan kehangatan bersama keluarga ?’’ tanyaku
lagi
‘saat terbaik kudapatkan sekitar seminggu yang lalu,
saat itu Arash berada di salah sebuah masjid besar di kota ini, tepatnya ba’da
isya. Selesai sholat tanpa kusadari diluar tengah gerimis, tentu saja aku
bahagia luar biasa tapi dibalik kebahagiaanku aku juga memikirkan kesehatanku,
jadi kuputuskan untuk menunggu di halaman masjid, seperti biasanya aku selalu
mengulurkan telapak tangan untuk sekadar bersalaman dengan gerimis, saat itu
dilangit malam dengan penerangan lampu-lampu masjid, cahaya seolah jatuh
bersama hujan, bulir hujan yang menitik seolah mengurung cahaya didalamnya,
indah sekali. Aku jatuh cinta untuk bilangan yang tak mampu ku hitung terhadap
hujan’. Eritanya dengan bangga
‘Arash hujan reda,jom balik’ kak Zii, mengingatkan
‘jom kak’ jawabnya singkat
‘Aqly, kakak dan Arash pergi dulu yah’
‘iya kak, hati-hati, Arash juga’
Hari itu hari terbaik dalam hidupku setelah sekian
lama sering memperhatikannya.
Bagiku dia memang gadis hujan yang unik. Apapun
tentangnya semuanya kesempurnaan.
Kecintaannya terhadap hujan selalu berhasil mengusik
rasa penasaranku, aku pernah melihatnya begitu anteng, didekat jendela gedung
baru lantai dua. Sambil mengulurkan tangannya dan menengadahkan telapak
tangannya ia seperti tengah bertelepati, berbicara dengan hujan yang menyapa
pribumi dan bahkan menyapa Arash dengan tenang. sesekali ia menyunggingkan
senyum ayu nya, menunjukkan bahwa ia sangat
menikmati saat itu.
kesempurnaan paripurna senja
pada rintik gerimis senja,
orange
tersenyum dengan ramah
sepasang sifat unik yang hidup dijiwanya
periang anggun
yang memesona
menambah rona sang jingga
dia yang berdiri
menantang mega
aku tertawan pada
karismanya
selarik kata untuk
memujinya
kamu kesempurnaan
paripurna senja

Komentar
Posting Komentar