Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Dialog Satu Arah

Hai, apa kabar ? Sibuk apa sekarang? Cukup lama ya tidak saling menyapa                Tak ada canda yang ceria                Tak ada cerita duka yang membuat panjang obrolan untuk saling menguatkan                Tak ada lagi "bagaimana hari ini?" Sederhana                   Namun penuh tunggu bahkan ia sangat berjasa karena selalu berhasil  memulai cerita                   Tak ada kisah yang ingin ku ulang                     Aku hanya sedang merapikan apa yang harus ku buang dan apa yang harus kku pertahankan Tapi tak mengapa   Mungkin dengan demikian menambah kedewasaan mental kita Tapi aku ingin berkisah sedikit tentang diriku Masih sama  Masih sering keluar cari ang...

Obrolan receh dikepalaku

Lucu yaa, saat ini kita sibuk berdialog dengan diri sendiri Menanyakan pencapaian Menanyakan peran Menanyakan target  Menjunjung ekspektasi  Membantah logika Menolak realita dan fakta Entah untuk memuaskan tanya yang tak pernah kenyang akan sebuah jawaban Entah untuk melepaskan sumpah serapah yang bersemayam di kepala karena amarah tak pernah benar-benar ia kasih muka Ataukah sekadar menghibur diri, sembari memeluk Atma  Padahal Kepastian jelas-jelas hanya milik Tuhan Tidak mengapa belum Sebab pencapaian tak melulu soal setara sejawat Tidak mengapa belum, Sebab tujuan bukan soal nominal celengan Tidak mengapa belum, Sebab Garis start, jenis duri Jenis tanjakan dan  Kedalaman lubang dijalan tidaklah sama aaagh sefrustasi itu memang ya Siapa yang akan menyangka bahwa memilih menjadi dewasa sedemikian hantaman yang harus diterima Tentang pilihan yang tak selalu sesuai harapan Tentang pertemuan asing yang berakhir dengan cara merungsing Tentang segala pernah yang harus m...

aku menyebutnya "apa"

Sudut dimana aku bisa menemukan sesuatu yang bisa ku sebut "aku" yup walau tidak seutuhnya karena bagaimanapun, apapun yang ada di dunia ini adalah titipan bukan ? aku ingin menyebutnya  tak ada yang lebih kusukai selain ini~ tapi apa artinya bila semua orang yang memandangnya pun berkata demikian?  ke-aku-an yang fana yang pada akhirnya akan dimiliki bersama bukankah seorang filsuf berkata bahwa cinta itu egois, keserakahan menyelimuti orang-orang yang jatuh cinta ia akan marah ketika yang dicintainya menjadi milik bersama dan siapapun yang tidak siap berada dalam keterikatan maka janganlah mengikat diri ah bagaimana ini ?  haruskah kuakui bahwa lagi dan lagi aku tak pernah benar-benar memiliki apa yang ku inginkan bahkan ketika aku merasa ia ada didalam genggangamku  but wait, tentu saja bisa bukankah pasir itu semakin di genggam semakin banyak ia terjatuh akankah keindahan yang ada di hadapan ku kini juga demikian semakin erat ku anggap ia milikku ku semakin jauh ...

pijakan fana

aku menempatkan diriku untuk menjadi pendengar dimana saat itu akupun butuh didengar aku menempatkan diriku untuk mengerti, saat kondisi ku pun membutuhkan pengertian  aku menempatkan segalanya diatas ego ku yang tanpa kusadari hal itu menciptakan bom waktu bom yang suatu waktu memaksaku untuk menangis bom yang suatu waktu memaksaku untuk ingin meninggalkan segalanya dan mungkin itu adalah salah satu cikal bakal yang orang lain fikirkan ketika ingin menemui kehidupannya yang abadi merasa sepi merasa tak dihargai merasa tak berguna dan merasa tan diinginkan inikah hidup yang hari ini orang-orang juluki "dewasa" menjadi dewasa yang kita elu-elukan ketika belia dengan dalih bebas pergi kemanapun tempat yang ingin dituju, dengan segala wish list pencapaian yang ingin didapatkan benar adanya kita bebas kemanpun, kita bebas memilih apapun dengan harga yang sepadan, bahkan bebas ingin menyelesaikan kehidupan yang fana tanpa terdikte lagi tanpa pengawasan dan tanpa pertimbangan yang ...

dimulai Dengan Tanda Tanya

Bagaimana ? Ku mulai tulisan ini dengan pertanyaan agar bisa lebih panjang kamu mengurai Bagaimanapun kondisimu nanti,  Biarkan aku memelukmu dalam dekap,  Menyekamu air mata mu dengan antusias,  Mendengarkan mu tanpa menyela sepatah katapun yang ingin kamu sampaikan sini Ku bagi sisi kiri dan kanan ku,  Atau  Kau ingin bercerita berhadapan,  Terserah cari posisi ternyamanmu,  dan  Ingat aku tidak akan pernah menyelisihi setiap kata yang kau ucap. Ku lanjutkan pertanyaanku tadi,   Bagaimana kondisimu?  ah jangan jawab dulu, apa yang ingin kamu lakukan ini ? MENYENDIRI Begitulah tulisan ini dimulai dan diakhiri  

korban egosentris

  Kopi hanyalah korban yang dijadikan kambing hitam diantara dua hati yang ingin bercengkerama Senja dijadikan korban demi pujian-pujian yang kau puisikan untuk si buah hati Apa susahnya kau puji langsung orangnya Dan puisi kau tunjuk-tunjuk sebagai cermin dari segala kerinduan yang tak pernah berani kau sampaikan langsung kepada orangnya Sederhana saja Sembari menunggu senja di lahap ujung bumi,  Mari nikmati kopi ini dengan obrolan santai Kita mengakhiri tanpa pernah benar-benar sepakat memulai Kita menyudahi obrolan tanpa pernah benar-benar menyapa dengan santai Kita memutuskan menjadi buntu meski sebelumnya hari-hari dihujani temu Kita benar-benar telah selesai meski tak pernah keluar kata usai Kali ini aku memutuskan untuk meninggikan rela Aku tak akan memaksa untuk bertahan sebab aku pun memilih beranjak aku tak bermaksud menahan sebab akupun merasa hadirku kau sapa enggan Tak mengapa yaaa Dariku Sehat-sehat disana Tuhan yang maha baik akan senantiasa menjaga hambanya ya...