Dalam
hidup ini, hati tidak bisa sempurna dengan meniadakan sifat benci dalam
hidupnya. Baik dengan alasan yang memang bisa diterima maupun dengan
alasan-alasan yang tidak bisa diterima. Dalam hal apapun yang hati kehendaki,
ia punya hak untuk menerima dan menolak. Namun demikian, membiasakan hati untuk
terus-menerus berada di sisi penolakan tanpa berusaha mempelajari dan memahami
tentang hal baru tentu akan membawa kerugian.
Sebagai contoh, saya telah
mengalami nya sendiri, yups seperti judul daripada tulisan ini. Benci yang kini
membakar semangatku. Kini saya berstatus sebagai mahasiswi semester tiga
jurusan biologi. Jika ditanya kenapa saya memilih jurusan ini, ialah karena
saya memang menyukai dunia pengamatan, penelitian yang menghasilkan pengetahuan
dan penemuan baru. Namun saat orang-orang bertanya, guru ya ?. tentu jawaban
saya bukan, tapi biologi murni yah yang secara umum nya saya jelaskan jurusan
ini biasanya di laboratorium. Dan seringkali ada pertanyaaan yang menimpali,
kok lab ?, dikampung gini kan gak ada lab, kenapa nggak mengambil jurusan
pendidikan saja. kadang ketika ditimpali pertanyaan seperti ini saya hanya
tersenyum dan menyatakan qadarullah. Saat mengisi formulir pendaftaran masuk
PTN pilihan pertama saya ya memang di FMIPA bukan FKIP. Walaupun pada pilihan
kedua yang saya tulis adalah FKIP biologi.
Sejatinya dari dalam diri saya
sendiri memang tidak berniat sedikitpun menjadi guru, hal yang membuat saya
sangat tidak menginginkannya ialah ketika saya melihat nakal nya murid-murid sekarang.
Dilatar belakangi banyak kejadian, hal ini membuat saya benar-benar mantap hati
tidak ingin menjadi guru.
Namun, hal itu berbeda dengan yang kini saya rasakan
dan saya pahami, tepatnya setelah mendengar pernyataan salah seorang ustadz
yang kurang lebih kayak gini, ’’kalau Cuma ngandelin amal sendiri beeeghhh harusnya
malu mati kita, namun dengan mengajar dan berbagi ilmu itulah yang akan menjadi
tabungan amal untuk kita di akhirat’’. Mendengar ini saya sadar betapa
pentingnya berbagi ilmu yah menjadi guru adalah salah satunya walaupun masih
banyak cara lain yang bisa ditempuh, contohnya dengan membuat kelompok belajar,
kelompok diskusi maupun menjadi mentor. Kita bisa berbgai dengan cara apapun
sesuai kondisi dan kemampuan.
Kembali kepada tema, bahwa benci itulah yang kini
membakar semangat saya untuk terus belajar, membaca banyak referensi dan
bergabung dengan berbagai kelompok untuk menemukan potensi diri serta
meningkatkan kapasitas pribadi. Dengan harapan semoga kedepannya proses ini
mendatangkan hasil yang bermanfaat bagi orang banyak, minimal untuk diri
sendiri dan keluarga.
Jangan pernah memenjarakan diri dengan terus membenci. Berhenti
membatasi diri dari segala ketidakmungkinan, jika hari ini kamu menemukan
alasan untuk membenci, pastikan bahwa kedepannya kamu juga tidak menemukan
alasan untuk berhenti membenci, sebab jika kamu temukan alasan untuk berhenti
membenci maka bersiaplah kamu akan menemukan cinta sejati, yang dengan apa saja
kamu rela mengorbankan apa saja yang kamu punya, tidak terkecuali waktu. Waktu
iya waktu. Hal yang bisa kamu miliki
tapi tidak bisa kau ambil kembali jika ia telah perg. Benci yang kini terus
menyorakkan saya untuk terus berjuang, tetap semangat.

Komentar
Posting Komentar