Menunggu
Ntah bagaimana canda kita yang tak begitu porak terasa begitu mengusik
kesunyian
Senda-senda yang menghantar kita pada pinggir kesendirian
Membawa kita pada gelanggang kebahagiaan
Pada jarak yang tak pernah mampu untuk ku taklukkan
Pada alasan yang tak termaknai dengan kata bahasa dan tulisan
Aku ialah fajar dan senja yang bercengkerama menanti
Biarkata ragamu jauh, aku dan mohonku untukmu ialah semati
Dengan fajar kusetia menyisir terang untuk sebuah kata kembali
Dengan senja kusetia menderma untuk jumpa yang kuyakin pasti terjadi
Do’aku tidaklah lari dari pada menyuratkan namamu
Ia terus memeluk, menjaga dan mengejarmu dalam lelap dan terjaganya dirimu
Diatas bumi kuhamparkan jemari untukmu pintaku terus terpateri
Pada langit ku simpul pertalian untuk namamu daki
Biarlah sajakku
ini menjelma kedalam malam
Membuai diri
untuk mengejamu lebih tentram
Harapanku tidaklah sirna untuk terus memperjuangkan arah kita
Untuk sementara
Mari menjadi tenang dalam sebuah penantian
Karena sesungguhnya kita saling mengetahui tujuan berpulang
Jangan risaukan rindu yang mendera
Cukup tangis yang mengikis itu terkubur didada
Jangan biarkan mulut bersuara
Sebab itu sia-sia
Tidaklah mengapa sesekali rindu ini menikam qalbu
Selama kamu sebagai madu
Luka ini tidaklah berpengaruh sebab dirimu ialah penyembuh
Mari kita menghapus segala risau terburuk
yang menghampiri
Memetik segala berkah atas sabar di hati
Mari tak acuh terhadap desir angin yang kian menderu
Menghasut segala sabar agar kita berpencar
Mari terus beriringan meski masih dalam rupa do’a
Mungkin ini isyarat dari-Nya
Kita ditempa oleh jarak untuk murninya jiwa
Komentar
Posting Komentar