Mungkin akan sangat menyenangkan bila kita menemukan seseorang yang bisa kita ajak bicara, saling bertukar pendapat, saling mendengarkan, kemudian saling bertukar ide demi menemukan solusi. Iya harusnya sangat menyenangkan. Meluapkan isi kepala, sampah-sampah yang memang seharusnya dibuang dan memang tidak sepantasnya ia diberi ruang unuk berada di kepala. Menyusahkan, memekakkan saja.
Ada yang bilang, tiap kita berhak punya teman cerita, sebagai makhluk sosial kita butuh yang namanya didengarkan, kita butuh seseorang untuk bisa saling bertukar fikir. Namun tidak semua kita seberuntung itu, seberuntung itu maksudku, tidak semua kita berada dilingkungan yang memang orang-orangnya paham akan pentingnya kebutuhan seseorang untuk didengarkan, tidak seberuntung itu maksudku tidak semua kita mampu menyampaikan apa yang sebetulnya kita maksud, karena terkadang rasanya apa yang disampaikan sudah sangat jelas namun tetap saja mispersepsi tidak jua ter-elakkan. Kadang maksud kita hendak mencari penengah, malah kita yang semakin dipojokkan atau bahkan kadang kita yang mendapat pembelaan, yang bahkan hal seperti bukanlah yang kita butuhkan.
Apa benar kata orang-orang tidak semua pertanyaan harus ada jawaban, iya seperti itu jualah setiap permasalahan yang kita punya tidak melulu harus kita temukan jawaban di waktu itu juga, mungkin nanti, atau besok, atau sebulan lagi atau setahun lagi hingga kita menemukan apa arti dari sebuah ‘hikmah’, dengan menunggu, menunggu dan menunggu akhirnya kelak kita akan tahu kenapa hari ini kita mendapat tekanan sedemikian kuat. Kelak kita akan menertawakan tangis hari ini. Benarkah begitu ? aku juga tidak tahu.
Sulit memang menjalani hari dengan beban dikepala, pundak dan kaki, eh. Beban di kepala yang bagaimana ? seperti beban moral, beban banyaknya kondisi ngebatin di saat mulut sangat tidak mampu berkata-kata, beban tuntutan sosial yang mengharuskan kamu untuk bla bla bla, yang memang secuek apapun kamu sedikit atau banyak pasti hal ini akan menggagggu fikiranmu. Beban dipundak, amanah-amanah yang terlanjur kamu iyakan, aktivitas fisik yang mau tidak mau harus dijalani demi sesuap nasi mungkin. Kaki, siapa sih yang tidak pernah merasa sangat lelah sampai rasanya melangkah pun enggan, tiduran aja maunya. Tapi sekali lagi hidup ini bukan soal diri kita seorang. Ada banyak yang harus difikirkan, dari diri sendiri, orang tua, keluarga dan orang-orang yang pernah kita susahkan tentunya. Akan sangat sulit menanggung beban seperti ini sendiri, tanpa seseorang yang mau mendengarkan.
Tidak semua kita seberuntung orang-orang yang selalu punya pendengar yang baik. Berceritalah dengan cara yang mungkin bisa kamu lakukan, bagi kamu yang senang menggambar, kamu bisa mengekspresikannya lewat gambar atau lukisan. Bagi kamu yang senang musik, kamu bisa mengekspresikannya lewat musik, dan bagi kamu yang senang menulis, tulislah apa yang kamu rasakan tanpa harus membuka kejelekan. Ekspresikan sesuka hatimu selama itu tidak merusak dirimu atau lingkunganmu. Kamu sudah merasakan sulitnya tidak memiliki pendengar, maka dari itu mulailah dengan diri kamu sendiri. Belajar menjadi pendengar yang baik.
Satu hal yang pasti ketika tiada siapa di sisi untuk medengar luka hatimu, kamu masih bisa bercerita, berkeluh kesah terhadap yang menciptakanmu. Memohonlah dengan sebenar-benar permohonan, bila yang kau minta tidak segera datang, percayallah ia akan datang di waktu yang tepat. Kamu bisa menceritakan apapun keluh-kesahmu kepada-Nya. Keep fighting dear.

Ada juga pendengar setia namun ia lebih memilih menyimpan segala miliknya. Lalu menumpahkannya dalam sujud yang selepas-lepasnya.
BalasHapusMembaca ini jadi merasa berada dibalik cerita. Seakan itu aku, seakan begitulah yang terjadi.
Bagus, tulisan rapi, diksi juga cukup banyak. Dan yang terpenting isinya ngena.
huhuu tengkyuu mas
BalasHapus