Khadijah binti khuwailid baik dari
sisi ayah maupun ibunya merupakan keturunan Quraisy terhormat, ia dijuluki
sebagai ratu Quraisy dimana sebelumnya ia telah digelar wanita suci. Berasal
dari keluarga terhormat khadijah tentunya merupakan sosok dengan moral tinggi,
ilmu pngetahuan yang luas dan tentunya
memiliki keahlian perniagaan. Kemampuan berniaga yang tinggi inilah yang
menghantarkan Khadijar digelar ratu Quraisy karena hartanya yang berlimpah,
sedangkan gelar wanita suci karena nilai moral yang ada pada khadijah sangat
sempurna.
Rumah tangga khadijah dan rasulullah
dibangun dan dijalankan atas dasar cinta, bahkan seusai walimahan keduanya berlangsung, khadijah menyerahkan seluruh
kepercayaan atas hartanya kepada rasulullah. Disela-sela kesibukan membersihkan
sisa-sisa walimahan khadijah berkata kepada Muhammad, khadijah berkata “ wahai
al-Amin, bergembiralah ! engkau bebas mengelola harta kekayaan ini tergantung
yang ekngkau redhoi ; baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang
terdiri atas bangunan- bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, dan hamba
sahaya telah menjadi milikmu.
Muhammad merupakan sosok lembut dan
memuliakan khadijah lebih dari sekadar memuliakan seorang ratu quraisy,
begitupun dengan khadijah yang telah menyerahkan seluruh kemampuannya untuk
melayani, menaati dan merawat Rasulullah dengan tulus. Keduanya melewati suka
duka bersama dan dalam keadaan tulus mencintai. Dari keduanya lahir 5 orang yaitu
Abdul Manaf yang digelari al-Qasim, Zainab, Ali, umamah, Ruqayyah, Fatimah
az-Zahra. Dua diantaranya yaitu al-Qasim dan Ali meninggal saat masih kecil.
Khadijah merupakan sosok istri yang
pengertian dan cerdas ditengah kecemasan Rasulullah akan turunnya wahyu
sehingga menggigil badannya walau ditengah cuaca yang panas, khadijah mampu
menjadi penghangat dan membantu menenangkan Rasulullah. Hari pertama
uzlah, Sepulangnya Rasulullah dari gua
Hira dalam keadaan menggigil, khadijah menuntun rasulullah ke pembaringan
dengan menyuguhi beberapa makanan dengan terus memberikan kalimat bijak agar
rasulullah menjadi tenang. Pada uzlah berikutnya, ketika rasulullah mendapat
kan wahyu khadijah begitu cerdas dengan kata-kata bijaknya ia memotivasi
Rasulullah akan kebenaran dari hasil uzlah Rasulullah, dengan mengumpulkan
beberapa informasi, khadijah pun berkata kepada Rasulullah yang masih dlama
keadaan cemas “oh tidak dimikian, jangan takut. Tenanglah, demi Allah, dia
tidak akan pernah membinasakanmu, engkau selalu menyambung tali persaudaraan,
jujur dalam berbicara, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang
keperluan yang belum ada, memuliakan tamu dan menolong orang yang kesulitan
karena menegakkan kebenara”
Khadijah lahir dari keluarga
terpandang, hartawan, dermawan tidak sedikitpun sifat-sifat tersebut yang tidak
ada pada dirinya. Ia mengorbankan seluruh wujud modal material dan sosial untuk
dakwahnya Rasulullah. Sungguh tidak heran apabila rasulullah sangat mencintai
Khadijah, bahkan ketika ia tiada kecemburuan Aisyah masih nyata kepada
khadijah.
Khadijah merupakan wanita pertama
yang memeluk islam, wanita pertama yang menjadi istri Rasulullah, yang pertama
menjadi ibu dari anak-anak beliau. Khadijah merupakan sosok wanita yang telah
menyerahkan jiwa dan raganya, cinta kasihnya, harta bendanya, untuk suksesi
dakwah rasulullah. Meski mendapat tekanan dari keluarga, kerabat, dan karibnya
khadijah tetap kuat berdiri atas dasar iman untuk mendampingi dakwah
rasulullah.
sumber : perempuan madinah

Komentar
Posting Komentar