Hujan diluar, kerlap-kerlip lampu jalanan yang kuyup oleh hujan, dan tetes-tetes yang bijak menjatuhkan diri tepat di aspal didepan jendela kamar, agh tentu saja tidak hanya basah diluar,
Ternyata, ada mata yang awalnya hanya berkaca-kaca kini terasa sudah banjir dan bah.
Namun, tuhan maha baik,
hujan diluar,
do’a dari hati seorang perempuan yang mengurung diri dikamar, tak ingin kalah derasnya,
qabul hajat. . .
malam, hujan dan rindu
rindu-rindu berdatangan satu persatu, memilih aku untuk menjadi satu dari seribu korban kenangan yang bisa saja dituju bila memang mau, kenapa harus aku ?
malam masih tetap sarkas dengan hening
daun-daun masih kuyup dalam dingin
dan kenangan yang kembali datang dalam rupa bayangan
aku mulai beradu argumen dengan diri,
entah antara hati atau logika
atau
antara logika dan rencana-rencana
masih atau
antara perasaan yang tak kunjung tau arah kembali pulang dengan keadaan yang harus diterima paling lapang meski dada masih saja sempit
“jangan” kataku
“kamu tetaplah kamu, gadis perindu penuh malu” hatiku
“inget, kamu sudah berhasil bangkit jangan lagi begitu”
“bangkit katamu ? kamu hanya sok tidak mau tahu, padahal kamu selalu tau bahkan keseluruhannya” logika
“sudahlah, aku tetaplah aku. Kalian seharusnya mendukungku, bukan malah menyerangku seolah kalian adalah diri yang terpisah” aku
“karena kita adalah satulah, kami menasihatimu begini, jujur sajalah kamu masih lelah, belum sepenuhnya berhasil bangkit, akui saja itu, itu bukan dosa yang harus kau tutup-tutupi sebagai sebuah aib yang yang haram untuk di akui dengan lantang”
Komentar
Posting Komentar